sbobet mobile, sbobet wap Sbobet judi online Maxbet,Judi Poker,Agen Bola,Judi Bola,Agen Sbobet

Spanyol U21 dan Inggris U21 Bagai Langit dan Bumi

SpainU21 - ligapilihan.com

Berita Piala Dunia – Sudah 24 jam berlalu sejak timnas inggris U-21 mengalami kegagalan terburuk dalam sejarah keikutsertaan mereka di turnamen Euro U-21. Meliht penampilan mereka yang mengenakan kostum tiga singa di Stadion Netanya Municipal Minggu lalu, terbersit sedikit pikiran, orang Inggris harusnya merasa bersyukur. Public sepakbola Inggris harusnya bersyukur bahwa tim terburuk yang pernah mereka kirimkan itu, tak dipertemukan oleh Tuhan dengan Spanyol, yang di pertandingan pertama sudah membuat tim Jerman tampak seperti orang bodoh – meski Cuma mencetak satu gol di pertandingan itu. Spanyol memberi pelajaran bahwa mereka harus dihormati, walaupun di musim ini Barcelona dan Madrid dipermalukan oleh tim Jerman di babak semifinal Liga Champions Eropa. Spanyol bergabung dengan Italia dan Belanda di semifinal, langkah Spanyol semakin mantap setelah menjuarai grup.

Spanyol yang hanya mencetal satu gol melalui Alvaro Morata adalah salah satu tim paling menghibur di turnamen, umpan-umpan yang tajam, passing yang visionic, control bola yang sempurna, serta pergerakan pemain yang fluid sangat jauh kelasnya dibandingkan Inggris yang bermain laiknya tim kuno di pertandingan itu, dan ditegaskan saat kalah dari Norwegia sehari sebelumnya.

Inggris memiliki empat pemain dengan caps Internasional senior (Jack Butland, Steven Caulker, Jordan Henderson, dan Wilfried Zaha) dalam pertandingan (buruk) melawan Norwegia. Sedangkan Spanyol Cuma memiliki dua orang pemain dengan caps senior (Thiago Alcantara dan Iso) pada starting XI melawan Jerman. Stuart Pearce harus melihat fakta ini, bila alibi mengenai gagalnya inggris di turnamen itu disebabkan kurangnya pemain terbaik yang mereka miliki. Well, Spanyol memiliki bakat-bakat muda yang melimpah di la liga, pemain-pemain muda di Spanyol rajin mengisi starting  line up di liga mereeka sendiri. Inilah yang membuat orang Inggris iri. Sulit bagi seorang pemain muda untuk tampil regular dalam timnas Spanyol bila mereka tidak memiliki skill yang luar biasa.

Sebelas pemain yang menjadi starter di pertandingan melawan Jerman adalah pemain-pemain yang tampil regular di level top musim lalu, Sembilan pemain dari starter adalah pemain la liga. Sebelas pemain itu memiliki total penampilan sebanyak 371 di level klub, 272 di pertandingan liga. Marc Batra – yang tampil grogi di semifinal melawan Bayern – adalah satu-satunya pemain Spanyoyang memiliki penampilan liga kurang dari 10 pertandingan (8 pertandingan liga, 18 pertandingan termasuk turnamen domestic). Sebagai tambahan, Sembilan dari 11 starter Spanyol malam itu akan tampil di Liga Champions musim depan.

Sebaliknya bagi Inggris, sebelas pemain yang tampil di pertandingan melawan Norwegia, hanya 4 diantaranya yang bermain di liga teratas negaranya, satu pemain diantaranya, Craig Dawson, hanya membukukan satu kali penampilan liga. Total empat pemain itu – tidak berasal dari klub top Inggris – membuat 76 penampilan di Liga Premier Inggris. Tujuh pemain lain berada di divisi Championship. Sangat jauh bila dibandingkan dengan pemain-pemain Spanyo bukan?

Kalau boleh jujur, saat melihat timnas Spanyol – senor dan junior – kita akan melihat pemain-pemain berkelas dimana-mana. Semua orang memiliki teknik yang luar biasa, setiap orang terlihat sangat nyaman dengan bola, dan membuat Jerman – kelak Belanda – bagaikan mengejar bayangan.

Bagi Pearce dan Neville, yang menonton pertandingan-pertandingan Spanyol, dan juga bagi kita, orang Indonesia – negara yang memiliki rerata tinggi badan hampir sama dengan pemain Spanyol – harus sadar, bahwa masa depan sepakbola berada di bawah (umpan-umpan pendek) dan pergerakan pemain yang fluid.