sbobet mobile, sbobet wap Sbobet judi online Maxbet,Judi Poker,Agen Bola,Judi Bola,Agen Sbobet

Bola Online Masih Ada Rasis di Era Modern Sepak Bola

Masih Ada Rasis di Era Modern Sepak Bola

Masih Ada Rasis di Era Modern Sepak Bola

Bola Online – Suara-suara menirukan kera langsung terdengar di stadion milik klub Rusia CSKA Moskow ketika salah seorang pemain hitam legam milik Manchester City yakni Yaya Toure mendapatkan bola. Fans-fans tersebut berteriak-teriak layaknya berada di kebun binatang. Para penonton yang ada di stadion memang dipenuhi oleh orang kulit putih. Maklum saja, ras kulit mereka memang kulit putih semua bahkan cenderung putih pucat. Mereka menganggap bahwa adalah sebuah lelucon jika ada pemain hitam yang bermain di stadion mereka. UEFA kemudian bertindak tegas atas kelakuan ini. Terhitung sejak kemarin partai sisa CSKA Moskow di kandang selama tiga kali laga Eropa tidak diperbolehkan ada penonton. Sebuah langkah yang luar biasa tegas memang harus dilakukan UEFA karena selama ini klub-klub yang penontonnya bertindak rasis hanya didenda dan kemudian para penonton tersebut melakukan hal yang sama kembali.

Sudah saatnya bagi UEFA menyatakan perang secara serius terhadap rasisme. Padahal digadang-gadang sepak bola sudah memasuki era modern. Sepak bola 2.0 kalau boleh memakai bahasa programnya. Di mana sepak bola bukan hanya sekadar milik para pemain dan pemilik klub tetapi juga milik para penonton. Sepak bola juga telah banyak melahirkan penemuan revolusioner seperti teknologi-teknologi rumput buatan dan stadion tertutup. Sehingga memang sudah seharusnya sepak bola melaju ke arah yang lebih modern dan maju. Sayangnya teknologi dan kemajuan ini tidak diimbangi dengan mental sebagian besar penonton sepak bola yang ternyata masih feodal. Mereka membedakan manusia hanya dari rasnya saja. Bukan dari kemampuan atau bukan dari kesetaraan. Padahal Tuhan menciptakan manusia itu setara.

Sebuah motto yang didengung-dengungkan oleh Revolusi Prancis. Ketika kemudian Eropa mengadopsi seluruh sistem dan tatanan yang berkeadilan dan setara tetapi kenapa sampai sekarang masih ada yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada yang lain. FIFA dan UEFA memang belakangan ini semakin tegas untuk menindak para pelaku rasisme. Tidak peduli apakah dia pemain bintang atau berasal dari klub terkenal, atau tidak peduli mereka adalah klub penuh sejarah yang bahkan mungkin ada para pendiri FIFA dan UEFA di sana dan juga tidak peduli mereka pendukung yang ganas atau bukan, FIFA dan UEFA tidak takut, karena hukum harus ditegakkan walau langit runtuh.

Peraturan dan ketegasan memang sarana yang paling ampuh untuk mencegah sebuah pelanggaran terjadi. Karena jika hanya seruan atau kampanye Football Against Racisme saja itu hanyalah kata-kata basi yang kemudian tidak akan dianggap oleh mereka-mereka yang telinganya tuli. Sebuah hal yang sampai sekarang belum terbentuk mental kebaikan secara keseluruhan. Apapun itu baik siapa saja yang membaca tulisan ini, hendaknya kita menganggap para pemain sama dan membedakan mereka karena kemampuan saja. Bola Online